Seni Budaya Satukan Masyarakat di Tengah Polarisasi Politik

Seni Budaya Satukan Masyarakat di Tengah Polarisasi Politik

JAKARTA (Kastanews.com)- Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yang juga pegiat budaya, Muhammad Farhan mengatakan, aktivitas seni dan budaya sangat penting untuk dirawat dan dikembangkan.
Seni dan budaya dapat mencairkan suasana dan menyatukan masyarakat di tengah polarisasi politik yang sangat tajam akhir-akhir ini.
“Bahkan kita melihat beberapa orang menjadikan polarisasi politik sebagai ajang perseteruan budaya. Antara budaya yang sangat dekat dengan karakter keagamaan, dan budaya yang dinilai jauh dari karakter keagamaan. Padahal semuanya sama-sama budaya,” ujar Farhan dalam Forum Diskusi Denpasar 12 dengan tema ‘Gerakan Budaya dan Partai Politik’, secara daring, Rabu (31/8).
Lebih lanjut Farhan menegaskan, institusi partai politik memiliki peran besar untuk meredakan polarisasi politik ini. Partai politik harus ikut bertanggungjawab menyatukan masyarakat.
“Partai politik perlu lebih memperhatikan pengembangan budaya di Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk dukungan penyelenggaraan acara-acara seni dan pertunjukan, tapi dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong keberlangsungan kebudayaan. Partai politik perlu lebih aktif lagi memikirkan pengembangan budaya dan pertunjukannya di Indonesia,” imbuhnya.
Legislator NasDem dari Dapil Jawa Barat I (Kota Bandung dan Kota Cimahi) itu menambahkan, Indonesia sudah memiliki dasar hukum untuk pemajuan budaya yakni UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Tindakan yang dilakukan terhadap objek pemajuan kebudayaan yakni; inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan. Setiap warga negara dapat berperan aktif dalam pemajuan kebudayaan.
Sebanyak 10 objek pemajuan kebudayaan tersebut yakni, tradisi lisan, adat istiadat, manuskrip, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni (ekspresi artistik individu, kolektif, atau komunal), bahasa, dan ritus.
Farhan mengatakan, diperlukan implementasi kebijakan publik yang erat dengan budaya Bangsa Indonesia. Dalam implementasinya, diperlukan ruang publik sebagai ruang ekspresi dan berbagi. Selain itu, seni dan budaya juga akan memicu daya kreatif Bangsa Indonesia dalam segala hal.
“Ekonomi Kreatif untuk nilai tambah, kreatif itu to create, dari tidak ada jadi ada. Nah ini yang menarik dari ide kreatif,” tandasnya.
Anggota Komisi I DPR RI itu juga mengingatkan seluruh elemen bangsa, bahwa seni dan budaya harus juga memperhatikan falsafah sekaligus dasar Indonesia.
“Apapun kebijakan publik yang erat dengan budaya bangsa harus memerhatikan core value bangsa kita yaitu Pancasila,” pungkasnya.(dis/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.