Refleksi Akhir 2021: Sesal Tiada Berguna

Refleksi Akhir 2021: Sesal Tiada Berguna

Gantyo Koespradono

 

KASTANEWS.ID: TAHUN 2021 beberapa saat lagi berakhir. Siapa pun tanpa kecuali berharap memasuki tahun 2022, kehidupan akan berjalan dengan baik, semuanya lancar.

Ya, semuanya ingin baik. Tapi, tak banyak di antara kita yang menyadari bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik, sehingga semuanya lancar.

Menutup tahun 2021, tak ada salahnya jika kita belajar dari pengalaman diri sendiri atau orang lain.

Membaca berita dan mengamati beragam peristiwa sepanjang 2021, saya merenung berjam-jam sebelum menulis catatan ini.

Dari perenungan itu, saya akhirnya yakin dengan pepatah “pengalaman adalah guru terbaik.” Begitu pula dengan “sesal kemudian tiada berguna.”

Pepatah yang saya kenal sejak SD dari guru saya itu sampai sekarang tetap berlaku. Tetap aktual. Tetap relevan. Tak surut oleh zaman yang sebentar lagi masuk ke era metaverse.

Sayangnya banyak di antara kita yang tak peduli atau mengabaikan kata-kata bijak yang telah teruji kebenarannya tersebut.

Pagi tadi saya membaca berita tentang seorang pelaku aksi demonstrasi buruh di kantor Gubernur Banten yang menyesal setelah ditangkap polisi.

Beberapa hari lalu bersama dengan puluhan rekannya sesama buruh, laki-laki ini menggerebek kantor gubernur dan merusak apa pun yang ada di sana.

Setelah dicokok polisi, ayah dari dua anak kembar (masih bayi) ini menangis meraung-raung. Kepada polisi, ia minta dibebaskan. Minta dikasihani.

Setelah ditangkap, ia baru ingat anak istri. Tapi saat berdemo ia sama sekali tidak ingat orang-orang di rumah. Saat berdemo, ia pasti merasa paling benar. Paling gagah. Paling berani dan merasa sebagai pahlawan.

Saat berada di lapangan, ia sama sekali tidak ingat dan sadar bahwa dirinya hanya diperalat oleh bohir atau provokator.

Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Ia terancam masuk penjara. Besar kemungkinan ia juga dipecat dari tempat pekerjaan. Bagaimana nasib anak istrinya? Ia menyesal tapi sudah terlambat. Tiada gunanya.

Peristiwa dalam konteks berbeda juga menimpa Yahya Waloni. Setelah disidang ia menyesal dengan perbuatannya selama ini yang memfitnah, menghina dan menistakan agama.

Saat melakukan provokasi (media menyebut “ceramah”) ia mungkin merasa sebagai sosok yang paling disegani dan merasa paling benar.

Setelah berurusan dengan hukum, Waloni baru menyadari (menyesal) bahwa apa yang dilakukan selama ini salah dan melukai orang (komunitas) lain.

Saya tidak tahu apakah Waloni juga menyesal dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini disombongkan terkait dengan masa lalunya?

Menyongsong tahun 2022 kita juga perlu belajar pengalaman dari seorang Bahar Smith.

Apa? Belajar pengalaman dari si rambut pirang?

Tunggu dulu. Maksud saya adalah pengalaman dari Smith yang tidak jera setelah dipenjara. Di luar, ia masih memprovokasi (maaf) orang-orang bodoh di sekitarnya. Masih pula menghina lambang-lambang negara.

Belakangan ia berurusan lagi dengan polisi. Ia rupanya tidak pernah pelajar dari pepatah “pengalaman adalah guru terbaik.”

Ada baiknya kita belajar dari seorang ustaz asal Aceh yang sebelumnya juga sok tahu mentang-mentang menjadi anggota ormas radikal yang kini sudah bubar.

Ustaz muda itu sekarang membuat program di Spotify “Jalan Sunyi Dakwah Cinta Ex FPI”. Ia juga menulis buku pertobatannya saat masih membenci pemerintah/negara, memfitnah dan menyebarluaskan hoaks.

Ia mewujudkan penyesalannya itu lewat sesuatu yang positif dan bermanfaat buat banyak orang.

Saya yakin sang ustaz ini bakal memasuki tahun 2022 dengan penuh sukacita dan penuh dengan harapan baru.

Bagi Anda atau siapa pun (termasuk saya) yang merindukan sesuatu yang baik di tahun 2022, mari kita renungkan apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2021.

Jika sepanjang 2021 kita masih merasa paling benar dan menganggap orang lain salah, lupakan. Maafkan.

Jika pada tahun 2021 terprovokasi untuk membenci pemerintah/negara dengan bungkus agama, ingatlah bahwa sifat benci tidak ada pada sosok Allah.

Lagi pula bukankah pemerintahan yang sah adalah representasi Allah untuk mengatur umat-Nya di dunia?

Benar, manusia, termasuk pemerintah tidak sempurna. Kewajiban kita bersama untuk memperbaiki dengan cinta dan kepedulian. Bukan dengan amuk dan fitnah.

Selamat menyambut Tahun Baru 2022. Tuhan sayang Indonesia dan kita semua karena kita baik.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *