Fitria Nur Hayati

Fitria Nur Hayati

KASTANEWS.COM: Sore itu dedaunan menggugurkan dirinya di aspal basah. Kaki-kaki bersepatu hitam berkeliaran ke sana ke mari, sibuk dengan urusannya masing-masing. Salah satu dari sepasang kaki itu menuju ke bangunan belakang, bersiap mengambil air wudhu. Setelah itu ia masuk ke dalam musala, mencari mukena yang belum terpakai. Ternyata semua mukena dipakai.

Akhir-akhir ini warga sekolah lebih rajin ke musala karena pekan depan ujian akan berlangsung. Kurang dari dua menit, seorang gadis menawarkan mukena milik sekolah untuk ia pakai. Gadis berbaju putih-biru, dengan rambut dikepang dan senyumannya yang ramah.

“Terima kasih,” gadis yang diberikan mukena berkata singkat, sambil tersenyum. Dia pun bergegas menunaikan salat ashar.

Pertemuan pertama mereka ternyata berkelanjutan, berlangsung berulang-ulang, di bangunan yang sama, di waktu yang berbeda, di setiap sudut yang memiliki ceritanya masing-masing. Pada awalnya, mereka tidak mengenal satu sama lain. Hingga suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu kelas saat naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Hari itu, mereka tidak tahu, bahwa belasan, bahkan mungkin puluhan tahun setelahnya, mereka akan saling berkelindan, menyusun fragmen kehidupan masing-masing, namun sama-sama saling menjaga satu sama lain.

Mereka—gadis dengan rambut dikepang dengan senyuman ramah bernama Fitria Nur Hayati, dan gadis yang menunggu mukena di musala sekolah adalah saya.

***

Waktu tidak pernah berhenti bernapas. Waktu menuliskan butir-butir kisah antara saya dan Fitria, yang sulit dihapus oleh waktu. Pada suatu malam, kami terkikik geli selama berjam-jam karena bercerita tentang entah apa—sambil mencoba menghabiskan bonus promo salah satu provider telefon. Kebiasaan itu berlangsung berminggu-minggu. Kebiasaan itu berhenti setelah salah satu handphone kami rusak.

Tapi cerita kami masih berlanjut.

Pada suatu siang, dia mendapati dirinya memiliki nilai tertinggi satu angkatan, sementara saya mendapati rapor saya anjlok dan menjadi posisi paling buntut di kelas. Pada suatu malam, saya menangis karena diselingkuhin pacar yang baru kenal dua hari, tapi dia lagi senang karena akan pergi ke luar negeri lusa hari. Beberapa minggu kemudian, dia menangis karena adiknya super menyebalkan, tapi saya senang karena baru saja mendapat nilai bagus dalam pelajaran matematika.

Hidup kami bertolak belakang, tapi kami saling melengkapi.

Katanya, dia kagum karena saya rinci dalam mengatur uang. Dia menemukan amplop-amplop bertuliskan Salon, Buku, Tabungan, Naughty, dan printilan kebutuhan gadis remaja lainnya. Isinya adalah recehan sisa uang saku saya setiap hari. Dia juga ingin bisa paham nonton film atau mengoleksi banyak buku seperti saya. Saya pinjami dia Laskar Pelangi, setelah berbulan-bulan ternyata dia mengaku bosan dan enggan melanjutkan. Saya ajak dia nonton DVD di rumah, salah satu film favorit saya karena diperankan oleh Leonardo DiCaprio, eh, dia malah ketiduran.

Bagaimana bisa dia kagum dengan saya, padahal saya lebih kagum dengan dia? Saya ga ngerti kenapa dia bisa semudah itu mendapatkan nilai 90 bahkan 100 untuk Matematika, Fisika, dan Kimia. Saya ga ngerti kenapa dia bisa selalu dapat posisi pertama dari zaman SD sampai SMA. Saya ga ngerti kenapa dia kalau makan porsinya banyak tapi berat badannya segitu-segitu aja. Ya saya iri, lah! Hahaha.

Malahan, sekeras apapun saya berusaha untuk belajar Fisika H-1 sebelum Ujian Nasional, yaitu dengan nginep di rumahnya, dan dia memasak sayur sop untuk saya, nilai Fisika saya tetap 60 dan dia tetap 90.

Itu semua sebelum saya tahu bahwa dia ditakdirkan bersama angka-angka, dan saya ditakdirkan bersama kata-kata.

***

Dua belas tahun setelah pertemuan kami, banyak hal terjadi. Kisah kami mengalir deras. Hingga hari itu tiba, saat akhirnya, dia, karibku yang paling setia, menemukan lelaki yang tepat untuk menjadi suaminya.

Fitria bukan lagi karib bagiku. Dia lebih dari karib. Dia bahkan sudah seperti saudara kandungku. Bahkan, ibuku seperti ibu kandungnya, yang ia mintai doa sebelum ijab kabul terlaksana. Ayahku seperti ayah kandungnya yang selalu ia tanyakan keadaannya. Ibunya seperti ibu kandungku, yang selalu aku ciumi tangannya dan kucium pipinya setiap kami bertemu. Ayahnya seperti ayah kandungku, yang selalu bisa mencari celah untuk membicarakan berbagai hal saat kami berjumpa.

Hari itu, hidupnya akan dipenuhi memori baru. Hari itu, Fitria, dengan busana putih dan riasan pengantin yang menawan, menuju meja ijab kabul. Aku menuntunnya di sebelah kanan, kakaknya di sebelah kiri. Kami berjalan melewati puluhan pasang mata yang menanti terciptanya dua insan yang akan bersatu sebentar lagi.

Saat ijab kabul dibacakan, mataku basah. Fitria menjelma permaisuri yang sedang berbahagia. Kenangan kami sejak SMP mengilas balik di kepalaku. Cerita-cerita kami tersimpan rapi dalam arsip memori. Setelah ini, kami akan bertemu lagi, dengan kehidupan yang sama sekali baru, sama sekali belum terjamah oleh waktu.

Hari itu, lelakinya menjabat erat tanganku dengan senyum lepas dan bahagia sambil berkata, “Terima kasih, Ras. Aku tunggu tanggal pernikahanmu.”

Harusnya aku yang berkata terima kasih kepadanya. Terima kasih karena dia yang akan menjaga Fitria sampai dia tua nanti.

***

(*) Manggarai, 20 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *