Dia Telah ‘Pergi’

Dia Telah ‘Pergi’

KASTANEWS.ID, PENGASINAN 19 Juli 2020: Malam sudah menggelincir ke jelang dini hari.  Sepoi angin dingin telah menyusup di antara derai tawa yang mereda. Laki-laki tua itu tetap memaksakan diri untuk hadir, meski sesungguhnya, tubuh rentanya tak lagi kuat. Namun semua tahu, itu dipaksakannya untuk menemui anak didiknya yang tengah berkumpul di Cidahu, Sukabumi, atau di kaki Gunung Salak.

Tepatnya pada pergantian hari, Sabtu menuju Minggu, tanggal 15 menuju 16 September 2018.  Rasanya tak ada foto yang sempat diabadikan kedatangannya. Bak anak muda di usia belasan tahun, laki-laki itu menyusul murid-muridnya yang  sedang berkumpul.

Itulah jiwa petualangan seorang Azwar Tanjung. Sosok yang menjadi guru, teman, sahabat, mungkin juga orang tua sekaligus.  Di usianya yang terus beranjak tua, hidup seperti memaksanya untuk melakukan itu semua.  Dia kerap katakan kepada mantan muridnya yang mungkin telah dianggapnya sebagai teman, “Bapak senang kalian bisa kumpul bersama. Bapak senang melihat kalian akur. Bapak sudah tua, tidak seperti kalian, jaga pertemanan hingga kalian nanti tua,” begitu katanya di banyak kesempatan.

Kehadiran pak Azwar, Guru Pembimbing Exispal,  di banyak acara yang digelar anak-anak Exispal, selalu ditunggu. Bukan lagi karena dia mantan guru atau mantan pembimbing, tetapi lebih karena pak Azwar memang menjadi bagian dari Exispal.

Pak Azwar tentu juga menorehkan banyak kisah di banyak teman.  Mulai ditraktir makan, dimintakan pendapatnya, diundang acara di sana di sini oleh angkatan atas maupun angkatan bawah. Sejatinya itu menunjukkan, Pak Azwar ada di tengah murid-muridnya yang mencintainya.

Bisa jadi salah, tapi Pak Azwar adalah salah seorang guru yang memiliki kedekatan sangat akrab dengan murid-muridnya. Bahkan terhitung sejak lebih dari puluhan tahun.

Saat Alumni Angkatan 1987 memperingati 30 tahun meninggalkan SMA 82 DAHA, Pak Azwar Hadir di acara tersebut. Bahkan teman-teman exispal dari angaktan 1987 menyempatkan diri untuk foto bersama.  Ada satu dua nama yang masih diingat. Namun tak sedikit juga dia sudah lupa. Tapi yang pasti, hampir seluruh siswanya tak ada yang melupakannya.

 

Gayanya yang nyentrik, dengan topi yang hampir selalu dia kenakan kemana dia pergi, menjadi penanda itulah ciri pak Azwar.

Sosoknya yang gagah di tahun 80an, dengan kumis melintang dan tubuh tegap,  akan menjadi bagian dari ingatan siswa-siswa yang pernah diajarnya.

Namun hidup berkata lain.  Di ujung Ramadan tahun ini, seorang perwakilan angkatan 1987 datang menemuinya. Menghadiahkan bingkisan lebaran. Meski hampir semua tahu, dia bukan lagi muslim. Bahkan yang memberikan bingkisanpun bukan seorang muslim. Pak Azwar menangis di pelukan teman perwakilan angkatan. Dia terharu. Masih ada yang peduli pada dirinya.

“Titip salam ya Ry, buat teman-teman. Bilang terima kasih dari bapak,” ujarnya, seperti ditirukan Ery Belseran kepada Dewan Pengurus.

Minggu 19 Juli 2020. Pak Azwar pergi untuk selamanya. Menyisakan kenangan yang tidak bisa dilupa. Doa doa berhamburan.

Selamat jalan Pak Azwar. Tidurlah dengan tenang. Hal-hal baik yang pernah bapak ajarkan dulu akan menjadi amalan panjang.    Kami akan terus mengingatmu. Semoga Tuhan memberi tempat terbaik. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *