Anies Berpasangan dengan AHY, Mungkinkah?

Anies Berpasangan dengan AHY, Mungkinkah?

Oleh; Gantyo Koesprdaono

KASTANEWS.ID: DARI sekian banyak bakal calon presiden, sosok yang belakangan paling bernafsu menjadi calon presiden (capres) adalah Anies Baswedan.

Terserah, pembaca mau bersimpati atau mual, Anies-lah yang terang-terangan menyatakan ingin menjadi presiden.

Konsisten dengan ambisinya, ia tidak malu-malu “berpromosi” ke sana kemari, bahkan sampai ke pelosok daerah untuk memberitahu kepada publik bahwa “Aku lho capres 2024. Ingat,ingat.”

Pencitraan yang dilakukan memang tidak sia-sia. Survei sejumlah lembaga survei, namanya selalu muncul di papan atas, meskipun tetap kalah dengan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Terhalang oleh unsur apa pun, Anies tampaknya bakal maju terus. Ibarat nyemplung ke kali, ia sudah terlanjur basah. Malu kalau di tengah jalan menyerah.

Bagi Anies, malu gagal menjadi bakal calon presiden lebih penting daripada malu gagal menggarap proyek Formula E.

Bagi Anies, lebih tajir nyapres daripada tajir berprestasi memimpin Jakarta. Kalaupun nanti gagal, paling tidak ia telah menorehkan sejarah pribadi berstatus “mantan capres.”

Persoalan yang kini dihadapi Anies adalah ia bukan kader atau organik partai politik.

Sebelum Partai NasDem membatalkan rencana menggelar konvensi capres, Anies berharap bisa mengikuti hajatan ini dengan harapan, “Eh, siapa tahu terpilih?”

Tanpa konvensi, sepertinya Partai NasDem harus berpikir ulang jika memaksakan diri mengusung dan mendukung Anies.

NasDem berkepentingan capres yang diusung dan didukung harus menang. Ini sudah dibuktikan NasDem ketika partai ini mengusung dan mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019. Waktu itu Jokowi benar-benar di atas angin.

Anies untuk sementara ini belum berada di atas angin. Peluang terpilih, kalaupun mau dipaksakan, masih fifty-fifty. Banyak pesimisme darpada optimisme.

Oleh sebab itu saya bisa pahami jika belakangan ini, Anies merapat ke Partai Demokrat. Kebetulan ketua umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga berambisi menjadi RI-1 meskipun terkesan dipaksakan.

Anies dan AHY beberapa hari lalu bertemu saat Partai Demokrat (PD) menggelar acara pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) DKI Jakarta periode 2022-2027 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Anies mengenakan syal bermotifkan logo PD. Anies tiba didampingi AHY. Setibanya di lokasi, Anies dan AHY disambut dengan aksi palang pintu dan adu pantun khas Betawi.

AHY menyebut Anies sebagai sahabat. Dia mengaku sudah sering berdiskusi dengan Anies sebelum sama-sama masuk ke dunia politik.

“Beliau adalah sahabat diskusi saya jauh-jauh hari sebelum kami berdua masuk ke dunia politik. Saya masih menggunakan seragam militer, beliau masih seorang tokoh akademisi atau cendekiawan yang ingin terus menghadirkan pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan untuk kemajuan bangsa,” kata AHY.

Saya tidak tahu persis, apakah pertemuan di hajatan khusus itu akan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan lain?

Dalam situasi dan posisi seperti saat ini, Anies dan AHY sepertinya pas untuk berpasangan masing-masing sebagai capres dan cawapres. Demokrat tentu membuka diri.

Untuk sementara, AHY harus tahu diri memosisikan dirinya sebagai cawapres. Mengacu pada hasil survei lembaga-lembaga survei, elektabilitas Anies jauh lebih anggul daripada AHY yang tidak mencapai dua digit.

Berpasangan dengan Anies, tentu lebih baik bagi AHY daripada sama sekali tidak mencoba keberuntungan di kancah nasional. Siapa tahu AHY bisa menyenangkan ayahandanya, Susilo Bambang Yudhoyono, yang memang merindukan AHY jadi pemimpin bangsa.

Keluarga Cikeas harus tahu diri. Saya yakin Demokrat terbuka dalam rangka mengantarkan Anies menjadi RI-1 (siapa tahu?).

Perjuangan memang tidak berhenti sampai di situ. Demokrat bukan partai yang memiliki 20% presidential threshold (PT) sebagai syarat untuk bisa mengusung kader atau jagoannya sebagai capres.

Saya duga, jika memang Demokrat mantap memasangkan Anies dan AHY, partai ini bisa saja berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Perolehan suara keempat partai itu pada Pemilu 2019 jika digabung sudah lebih dari 20%.

Nah, tunggu apa lagi? Segera atur, silakan cari kesepakatan dan beri tanda jadi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.