VRI dan Rockafella’s Gelar In Memoriam Ecky Lamoh

VRI dan Rockafella’s Gelar In Memoriam Ecky Lamoh

JAKARTA (Kastanews.com): Ecky Lamoh atau pemilik nama asli Alexander Theodore Lamoh, adalah salah satu vokalis rock Indonesia yang cukup ikonik. Minggu, 30 November 2025, Ecky mengembuskan napas terakhirnya di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Ecky Lamoh dinyatakan meninggal dunia pada pukul 02.15 WIB di usia 64 tahun. Ecky Lamoh, lahir pada 13 Juli 1961 di Mojokerto, Jawa Timur.

Dengan karakter suara tinggi, serak, dan penuh tenaga ini dikenang atas kontribusi besarnya pada band rock legendaris Edane dan Elpamas. Penyebab kematian resminya adalah komplikasi penyakit kronis yang telah diderita selama beberapa hari, termasuk kondisi yang memerlukan tindakan cuci darah.

Untuk mengenang kepergiannya, Vokalis Rock Indonesia (VRI), komunitas penyanyi rock Indonesia yang bekerjasama dengan Rockafella’s akan menggelar “In Memoriam Ecky Lamoh pada Jumat Malam, 12 Desember 2025 di FAT & SIM, lantai 20, RA Suites Hotel Simatupang, Jakarta Selatan.

Sahabat musik yang akan turut serta berpartisipasi sebagai ungkapan rasa duka dan mengenang kebersamaan mereka, sekaligus menunjukkan simpati mendalamnya, akan hadir antara lain Ikang Fawzi, Once Mekel, Trison Manurung, Roy Jeconiah, Eet Sjahranie, Jelly Tobing, Ekki Soekarno, Kadri Makara, Connie Constantia, Ranie Klees, Gideon Tengker, Toto TeweL, Edi Kemput, Ayat Whizzkid, Njet Barmansyah, Ervin Nanzabakri, Fitriansyah Pipit, Jon Angelz, Nio Fals, Robbie Matulandi, Ikmal Tobing, Taraz Bistara, Boetje YKT, Mandow, Yoyo Basman, Teysar Xaverius, Nangky, Aji San dan Group Band seperti Rockafella’s, Laskar, Lawang Pitu, Glenn The Vicious Boys, SchoolBoy /Error dan rencananya tampil juga Gugun Blues Shelter.

“Selain mengenang kepergian Almarhum, acara ini juga kami persembahkan untuk para penggemar musik rock tanah air dan dedikasi serta karya-karya Almarhum,” ungkap Coki Aritonang, salah seorang pengurus VRI chapter Depok dalam keterangannya, Kamis (11/12/2025).

Lebih jauh tentang Ecky Lamoh
Nama Ecky bukanlah nama lahir, melainkan adaptasi dari panggilan sayang. Saat kecil, ia dipanggil “Leki” (kependekan sayang dari Alexander), namun karena ia masih cadel, ia hanya bisa mengucapkan nama itu sebagai “Eki”, yang kemudian melekat dan diabadikan sebagai nama panggungnya, Ecky Lamoh. Detail linguistik dan personal ini menunjukkan sisi hangat dari persona rocker yang keras.

Marga Lamoh yang ia sandang, berasal dari keturunan Minahasa, Sulawesi Utara. Kata asalnya adalah “Lamo”, yang berarti panjang dalam bahasa Minahasa. Perubahan dari “Lamo” menjadi “Lamoh” terjadi pada era kolonial Belanda di Batavia sekitar tahun 1912, sebuah detail yang menghubungkan latar belakangnya dengan sejarah etnis dan penjajahan.

Jauh dari citra rock and roll yang identik dengan panggung dan distortion gitar, Ecky Lamoh adalah seorang yang religius dan berdisiplin fisik. Ia seorang Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K) dan aktif melayani sebagai pendeta di Gereja Bethel Indonesia (GBI). Di sisi lain, ia juga memiliki gelar Black Belt Karate, sebuah kombinasi unik yang menggambarkan perpaduan antara spiritualitas, intelektualitas, dan kedisiplinan fisik dalam dirinya.

Sebelum Edane terbentuk penuh, Ecky Lamoh dan Eet Sjahranie sempat membuat proyek duo bernama “E & E” (Ecky & Eet). Kolaborasi ini menjadi fondasi kuat yang menghasilkan album debut monumental The Beast (1993). Album yang melahirkan hits seperti “Ikuti” ini merupakan hasil sinergi vokal dan gitar yang sangat padu, sebuah momen krusial yang mengokohkan genre heavy metal di Indonesia.

Karier Ecky sempat menjajal dunia perfilman dengan berakting dalam film biopik “Wage: The Science of Fictions”, sebuah film yang mengangkat kisah pahlawan nasional Wage Rudolf Supratman. Keterlibatannya di dunia seni peran menunjukkan bakat ekspresifnya yang melampaui mikrofon panggung.

Pertunjukan “Cukup Siti Nurbaya” Sebagai Penampilan Terakhir yang Memukau
Salah satu penampilan panggung terakhir Ecky yang sangat berkesan terjadi pada Konser 51 Tahun Kerajaan Cinta Ahmad Dhani pada Mei 2023. Di sana, ia mencuri perhatian dengan membawakan lagu Dewa 19, “Cukup Siti Nurbaya,” dengan gaya vokal rock khasnya. Penampilan ini menjadi pengingat yang menyentuh tentang betapa tingginya kualitas vokal dan karisma panggung yang ia miliki hingga akhir hayatnya.

Meskipun dikenal sebagai rocker veteran, Ecky Lamoh menunjukkan semangat belajar yang tak pernah padam. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Yogyakarta, bukan hanya untuk pelayanan gereja, tetapi juga untuk melanjutkan studi Magister Pendidikan di STT KADESI. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan dan agama, di tengah aktivitas bermusik, menegaskan bahwa ia adalah sosok yang terus bertumbuh dan berpikir.

Ecky Lamoh pergi sebagai seorang suami, ayah, pendeta, dan seorang seniman yang karyanya telah teruji waktu, menolak kata ‘pupus’ dalam kamus kreativitasnya. Meski ia tak lagi bisa memimpin chorus dengan vokal seraknya yang khas, energi dari album The Beast dan lagu-lagu Elpamas akan terus mengalir, menjadi sumber inspirasi bagi generasi yang haus akan rock otentik dan penuh karakter.

Kehidupannya, yang memadukan kedisiplinan seorang pemegang sabuk hitam karate dengan kerendahan hati seorang pelayan Tuhan, menjadi sebuah komposisi yang jauh lebih kaya dan bermakna daripada sekadar melodi, membuktikan bahwa seorang ikon musik bisa menanamkan nilai-nilai humanis yang tak lekang oleh zaman.(Ji’ung/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *