Tanda Seru Gandeng Roy Jeconiah ex Boomerang Rilis Ulang “Panitia Akhirat”

Tanda Seru Gandeng Roy Jeconiah ex Boomerang Rilis Ulang “Panitia Akhirat”

YOGYAKARTA (KASTANEWS.COM) — Seolah memantapkan posisinya sebagai band alternative, Tanda Seru resmi merilis ulang lagu “Panitia Akhirat” dalam versi kolaborasi bersama rocker legendaris Indonesia, Roy Jeconiah (ex Boomerang). Kolaborasi ini menandai pertemuan lintas generasi yang berangkat dari panggung, tumbuh secara organik, dan berujung pada karya musik yang merefleksikan kegelisahan zaman.

Perjalanan Yunan Helmi (bass), Eunika “Leca” Theresia Siahaan (drum) dan Evanny Noei Rana (gitar) sebagai Tanda Seru menuju titik ini tidak datang secara instan. Band asal Yogyakarta ini pertama kali menyita perhatian publik ketika Yunan Helmi, vokalis sekaligus penulis lagu Tanda Seru, secara terbuka melontarkan kritik kepada Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, dalam sebuah forum publik.

Pernyataan tersebut viral luas di media sosial dan menjadi titik awal sorotan publik terhadap sosok Yunan Helmi serta band yang digawanginya.

Momentum viral tersebut berlanjut pada rilisan lagu “Panitia Akhirat”, sebuah karya yang secara frontal mengkritik praktik moralitas palsu, penghakiman sepihak, serta penggunaan agama sebagai alat menakut-nakuti dan mengontrol manusia.

Sejak pertama kali dirilis, lagu ini menuai kontroversi, penolakan, hingga pesan-pesan bernada ancaman dan intimidatif. Namun alih-alih meredam langkah, respons tersebut justru membuat nama Tanda Seru semakin dikenal luas sebagai band yang konsisten menyuarakan kegelisahan sosial tanpa kompromi.

Sebagai band grunge pendatang baru, Tanda Seru mencatat pencapaian signifikan. Dalam satu momentum, trafik konten mereka di media sosial menembus lebih dari 100 juta tayangan, diiringi dengan intensitas panggung yang kian padat di berbagai kota. Antusiasme publik yang terus tumbuh menandai bahwa Tanda Seru bukan sekadar fenomena viral sesaat, melainkan band dengan basis audiens yang nyata.

Pertemuan Tanda Seru dan Roy Jeconiah bermula dari sebuah show kolaborasi di Magelang, yang kemudian berlanjut dalam pertunjukan kolaboratif di Yogyakarta. Dari interaksi panggung tersebut, muncul gagasan untuk membawa kolaborasi ke ranah rekaman.

Dalam proses awal, terdapat tiga lagu yang dipertimbangkan untuk dikolaborasikan, yakni “Perang”, “Negeri Para Begundal”, dan “Panitia Akhirat”. Setelah melalui berbagai pertimbangan artistik dan relevansi pesan, pilihan akhirnya jatuh pada “Panitia Akhirat” sebagai lagu yang paling merepresentasikan kegelisahan bersama lintas generasi.

“Pertemuan Tanda Seru dan Roy Jeconiah bermula dari sebuah show kolaborasi di Magelang, lalu berlanjut ke pertunjukan kolaboratif di Yogyakarta. Dari interaksi di atas panggung itu, muncul gagasan untuk membawa kolaborasi ini ke ranah rekaman.

Dari tiga lagu yang sempat dipertimbangkan—‘Perang’, ‘Negeri Para Begundal’, dan ‘Panitia Akhirat’—kami akhirnya memilih ‘Panitia Akhirat’ karena paling mewakili kegelisahan lintas generasi,” ujar Yunan Helmi.

Kolaborasi ini menjadi bab penting dalam perjalanan Tanda Seru. Bagi Yunan Helmi, proyek ini merupakan kebanggaan personal sekaligus artistik, mengingat karya-karya Roy Jeconiah merupakan bagian dari referensi awal yang membentuk perjalanan bermusiknya.

Secara musikal, versi kolaborasi “Panitia Akhirat” hadir dengan aransemen yang lebih padat, agresif, dan emosional, tanpa kehilangan roh originalnya.

Raungan distorsi gitar, atmosfer gelap, serta dinamika vokal yang kontras mempertegas identitas grunge Tanda Seru, sekaligus membuka ruang dialog dengan karakter lintas generasi yang dihadirkan Roy Jeconiah.

Kolaborasi Tanda Seru x Roy Jeconiah tidak berhenti pada satu rilisan. Kerja sama ini direncanakan akan berlanjut ke format yang lebih luas melalui rangkaian pertunjukan bertajuk “Tour Jiwa Zaman”, sebuah tur lintas generasi yang merepresentasikan kegelisahan, semangat, dan denyut sosial dari waktu ke waktu.

Melalui kolaborasi ini, musik kembali diposisikan sebagai ruang refleksi—bukan provokasi, serta sebagai medium keberanian untuk bersuara secara jujur dan bertanggung jawab. (bch*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *