Syukuran 41thn Elang Gunung dalam Kebersamaan

Syukuran 41thn Elang Gunung dalam Kebersamaan

PAMULANG (Kastanews.com): Persis satu minggu yang lalu atau tepatnya Sabtu (10/1/2026), Pecinta Alam Elang Gunung melakukan syukuran hari jadinya yang ke 41 tahun di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Syukuran yang dilangsungkan dengan cara sederhana itu tetap memberikan kehangatan persaudaraan dan kebersamaan yang tulus.

Doa dipanjatkan sebelum keberangkatan rombongan ke dua dari Pamulang, Banten. Rombongan pertama telah berangkat lebih dulu, Jumat (9/1/2026) sore sebagai tim advance. Rombongan ke tiga berangkat dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Syukuran 41thn Elang Gunung tidak bermaksud untuk gegayaan, melainkan semata karena keberhasilan merajut tali persaudaraan dalam kebersamaan. Ini adalah bentuk kesetiaan selama 41thn dalam suka duka yang pernah dialami bersama. Lelah bersama, tawa bersama, tangis bersama, canda bersama dalam satu spirit persaudaraan.

Pilihan lokasi di kawasan Gunung Bunder tentu juga bukan asal tunjuk. Itu adalah lokasi cikal bakal nama Elang Gunung disematkan. Lokasi saat mereka ditempat secara fisik dan mental. Mereka disuruh push up, squat jump, jalan jongkok, diteriaki, dibentak, push up lagi, squat jump lagi hingga larut malam.

Saat tiba di lokasi, tim advance menyambut rombongan dengan suka cita. Hujan yang mengguyur sejak pagi, menambah kehangatan persahabatan Elang Gunung semakin erat. Bahkan satu diantara penyambut, Mustawan Bilwan MS Hudjaerudin yang khusus datang dari Lembang Bandung ikut menyambutnya. Rupanya, pemilik nomor KTA EG/009/EX/84 itu sudah sejak pagi sudah ada di lokasi.

Siang itu Gunung Bunder terasa sejuk. Hawa dingin setelah hujan sejak kemarin mengobati kerinduan dinginnya puncak gunung-gunung yang pernah didaki. Bau humus yang menyeruak dari sekitar lokasi, menambah suasana semakin mengingatkan jika mereka pernah muda dan menjadi pendaki.

Sebuah saung yang khusus didirikan untuk syukuran telah gagah berdiri. Menjadi posko utama. Tempat berkumpul untuk membagi cerita. Menjadi tempat barang-barang bagi yang ingin menginap sekaligus tempat tidur malam harinya.

Foto bersama menjadi moment yang tidak boleh dilewatkan. Menyaksikan pohon-pohon tinggi menjulang yang ditingkahi tanah-tanah berbukit, membangkitkan jiwa muda pendaki. Dulu, untuk berfoto butuh kamera khusus. Harus dihitung betul karena masih menggunakan negative film. Harus dicuci cetak. Semua ada biayanya. Tapi sekarang, kamera di genggaman siap membidik dengan berbagai pose. Tanpa harus membayar. Berpose pun sampai lelah dan jengah karena sudah kehabisan gaya.

Sholat dzuhur dilakukan di mushola kecil yang sempat diinisiasi Elang Gunung beberapa waktu lalu sebelumnya. Ada sedikit niat untuk merenovasi mushola agar terpisah dari warung, agar tampak sedikit lebih baik sebagai tempat sholat menunaikan kewajiban sebagai muslim. Tempat berserah diri sebagai hamba sang Khalik. Tapi rasanya untuk merenovnya belum dalam waktu dekat ini.

Maka siang telah siap. Sumbangan personil Elang Gunung. Ada sayur asem, dendeng daging, ikan nila goreng, kerupuk, ayam goreng, tempe, tahu, lalapan. Tapi sayang seribu sayang, sambel terasinya masih tertinggal di kulkas di Bintaro. Namun doa tetap dipanjatkan. Mengungkapkan rasa syukur hari itu masih ada rejeki yang akan disantap bersama.

Matahari telah menggelincir ke arah barat. Personil Elang Gunung berkumpul di saung utama. Saung ini sudah diijinkan oleh penjaga wilayah jika ingin diberi nama Saung Elang Gunung.

Di bawah tenda, semua bercerita. Hendri Camar, mengenang saat dirinya ditantang untuk turun ke dalam gua vertikal. Sayangnya, setelah sampai di bawah, dia tidak bisa kembali naik. Wal hasil, seniornya harus turun menjemputnya.

“Kenapa gak bisa naik, kan udah diajarin cara naiknya,” tanya seniornya.
“Pas pelajaran itu saya gak masuk,” tukas Hendri.

Berbeda lagi dengan Mustawan. Kisah pendakian di Gunung Ciremai, dirinya sempat didampingi ular selama pendakian. Namun sekarang, setidaknya sudah ada 122 ekor ular berhasil ditangkapnya. Dari berbagai jenis ular.

Begitupun dengan Udin Pawang. Dia merasakan, dengan mengikuti kegiatan pecinta alam, dirinya merasa lebih kuat secara fisik dan mental dalam menghadapi kehidupan.

Banyak kisah dan cerita yang berhamburan. Mulai dari relcross Jakarta-Serpong, hingga pendakian dari gunung gunung tinggi di Indonesia.

Suasana terasa hangat. Persaudaraan terasa penuh makna. Rasa syukur bahwa pernah merasakan masa muda yang penuh arti menyelimuti hati.

Siang menggelincir sore. Sebagian dari personil Elang Gunung dengan terpaksa harus balik kanan. Kembali pulang ke Jakarta. Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan yang lain, tetap bermalam.

Api unggun seperti menjadi kewajiban saat kemping. Harus ada. Sekedar menghangatkan tubuh karena dekapan malam berselimut dingin sulit ditawar. Kisah-kisah lawas yang belum tersampaikan pun kembali berhamburan. Ada terlalu banyak cerita yang harus ditulis ulang.

Malam itu mereka tidur cukup nyenyak. Tapi ada juga yang tidak bisa tidur karena sudah terbiasa bergadang.

Pagi datang. Kopi telah siap disantap. Roti bakar menjadi menu pagi peneman kopi. Cerita dan tawa kembali hadir. Pertemanan begitu dekat. Hati ke hati. Bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan.

Lepas sarapan pagi, Elang Gunung kembali pulang. Hujan menghadang. Hingga siang menjemput baru benar-benar bisa meninggalkan lokasi.

Syukuran 41thn Elang Gunung, telah memberikan banyak hal. Soliditas, persaudaraan, kebersamaan, kekompakan, dan menuntaskan berbagai kerinduan akan bersatunya manusia dengan alam. Selamat untuk Elang Gunung yang telah menjadi pribadi-pribadi yang tetap mengingat kawan di saat teman tengah berkubang persoalan. Menjadi pribadi yang terus ada di saat yang satu ingin direngkuh. Menjadi pribadi yang terus menggenggam erat tangan seperjalanan bak saudara. Jadi Elang Gunung yang terus setia pada spirit kebersamaan dan persaudaraan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *