Kunjungan Kehormatan Kedutaan Besar Jepang, Perkuat Kebudayaan sebagai Investasi Jangka Panjang

Kunjungan Kehormatan Kedutaan Besar Jepang, Perkuat Kebudayaan sebagai Investasi Jangka Panjang

JAKARTA (KASTANEWS.COM) : Menteri Kebudayaan Republik Indonesia menerima kunjungan kehormatan perwakilan diplomatik Kedutaan Besar Jepang di Indonesia di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, memetakan kerja sama kebudayaan sebagai investasi jangka panjang bagi kedua negara dengan membahas empat isu utama, yakni kerja sama museum, revitalisasi situs bersejarah, repatriasi, serta pengajuan Nota Kesepahaman baru di bidang kebudayaan yang lebih komprehensif.

Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli Zon yang didampingi oleh Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Menteri Kebudayaan bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang.

“Kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Jepang tidak hanya mempererat hubungan antarnegara, tetapi juga membangun saling pengertian dan persahabatan yang makin kokoh di antara masyarakat kedua bangsa,” tutur Menbud Fadli.

Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan membahas potensi kerja sama pelestarian situs sejarah peninggalan Jepang di Indonesia, salah satunya Gua Jepang yang tersebar di berbagai daerah. Gua Jepang di Bukittinggi, Sumatra Barat, kini tidak hanya berkembang sebagai pusat budaya tetapi juga destinasi wisata sejarah. Sementara itu, di Kupang, Nusa Tenggara Timur, ditemukan situs serupa dengan skala yang lebih besar dan panorama laut yang indah, namun masih membutuhkan upaya restorasi dan penataan kawasan.

“Kami melihat peluang untuk mengajukan kerja sama rehabilitasi situs-situs ini, termasuk pengembangan museum atau museum terbuka (open air museum),” tambah Menbud. Menurut Menbud, revitalisasi yang dilakukan secara tepat dengan dukungan Jepang tidak hanya akan memperkuat pelestarian sejarah, tetapi juga meningkatkan nilai edukasi dan pariwisata budaya.

Kerja sama kebudayaan Indonesia-Jepang juga diarahkan pada penguatan kolaborasi antarmuseum, pertukaran tenaga profesional, serta potensi digitalisasi. Pemerintah Indonesia turut mendorong penjajakan joint nomination Warisan Budaya Takbenda UNESCO bersama Jepang yang dapat ditelaah kembali secara bersama.

Di samping itu, repatriasi manuskrip turut menjadi perhatian. Upaya repatriasi dilakukan baik secara fisik maupun digital, sejalan dengan langkah Indonesia dalam memperjuangkan pemulangan koleksi bersejarah dari berbagai negara, salah satunya Belanda, yang baru saja memulangkan 28.000 fosil koleksi Dubois.

Perwakilan diplomatik Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Chargé d’Affaires ad interim (Kuasa Usaha ad interim) Mitsuru Myochin, yang didampingi oleh Director of Information and Cultural Section, Hoshino Daisuke; dan Cultural Attaché, Information, and Cultural Section, Kano Tatsuya, menyambut baik peluang penguatan kerja sama kebudayaan antarkedua negara.

Dirinya menegaskan bahwa Jepang, termasuk melalui Japan Foundation, sangat terbuka dan antusias untuk mendorong pertukaran budaya yang berkelanjutan guna memperkuat mutual understanding. “Japan Foundation sangat senang dapat berkerja sama dalam mendorong pertukaran budaya yang memperkuat saling pengertian.

Kami mengapresiasi berbagai proposal yang telah diajukan dan akan menelaah lebih lanjut peluang kerja sama yang dapat kami lakukan,” jelas Mitsuru Myochin.

Mitsuru Myochin juga menyampaikan bahwa pada Februari tahun ini pihak Jepang berencana melakukan riset lanjutan di Papua terkait repatriasi. Ia menekankan bahwa dukungan dari berbagai pihak akan sangat membantu kelancaran dan keberhasilan kegiatan tersebut, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih erat di masa mendatang.

Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan berharap kemitraan Indonesia dan Jepang di bidang kebudayaan dapat terus diperkuat secara berkelanjutan. Kerja sama yang terjalin tidak hanya menjadi upaya pelestarian warisan budaya, tetapi juga berperan sebagai investasi jangka panjang dalam mempererat hubungan antarmasyarakat, memperkuat diplomasi budaya, serta mendorong kolaborasi konkret yang berdampak bagi kedua negara. (Foto : Vidhy Fellizano Sfinoza/rlsbch*\)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *