JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendorong pengembangan nanas sebagai komoditas unggulan dari kawasan transmigrasi melalui penyelenggaraan Festival Nanas di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Kegiatan ini menjadi wadah menyerap aspirasi petani sekaligus memperkuat nilai tambah komoditas nanas. Momentum tersebut dimanfaatkan petani nanas asal Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Sendo Naminrova, untuk menyampaikan langsung persoalan yang dihadapi petani terkait kepastian lahan garapan.
Di desa tersebut terdapat lahan nanas seluas 108 hektare yang sebagian besar masih berstatus milik pihak lain. “Pak, di Desa Rimbo Panjang ini ada lahan seluas 108 Ha untuk budidaya nanas. Namun lahan yang saya garap itu bukan milik pribadi, tetapi milik orang lain yang bersedia memberikan pemanfaatannya kepada saya,” ujar Sendo dalam pertemuan di BPPMT Pekanbaru, 17 Januari 2026.
Dia menjelaskan, terdapat 38 petani nanas di desanya. Dari satu hektare lahan, produksi bisa mencapai 19.000 buah nanas dengan harga jual sekitar Rp6.000 per buah. “Dari menanam nanas inilah kami bisa menyekolahkan anak-anak,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
Menanggapi keluhan tersebut, Viva Yoga menyatakan bahwa salah satu amanat Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Transmigrasi adalah menjalankan reforma agraria melalui program transmigrasi karya nusa atau transmigrasi lokal.
“Tanah yang diberikan bukan sekadar lahan namun juga sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat,” ujarnya. “Jadi yang belum memiliki lahan bisa ikut program transmigrasi,” tambahnya.
Viva Yoga juga mengapresiasi Kampar sebagai sentra nanas dengan tiga desa utama, yakni Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas, yang memiliki ribuan hektare lahan.
Untuk memperkuat pemberdayaan, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas bertema Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi, yang menampilkan berbagai olahan seperti sirup, dodol, keripik, dan jajanan tradisional berbahan nanas.
Sebagai bagian dari pengembangan berkelanjutan, Kementerian Transmigrasi merencanakan pembangunan rumah produksi nanas.
“Sebagai bukti dari keseriusan program ini, hari ini pula kita resmikan Pusat Edukasi Nanas Moris,” ujar Viva Yoga.
Pusat edukasi yang berada di area belakang BPPMT Pekanbaru itu diharapkan menjadi sarana pelatihan bagi calon transmigran. “Mereka akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi sehingga komoditas nanas akan tumbuh di mana-mana,” ujarnya.
“Pengembangan nanas secara menyeluruh akan menjadi bagian yang sangat penting di dalam pengembangan ekonomi masyarakat,” tambah mantan Presidium MN KAHMI itu.
Sementara itu, Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir menyebut nanas memiliki keunggulan adaptif karena dapat ditanam di lahan tandus, gambut, maupun tanah kurang subur. “Sebagai produk unggulan maka nanas kita jadikan maskot BPPMT Pekanbaru,” tegasnya.
Adapun menurut Sendo, nanas moris unggul karena rasanya manis, harum, tahan hama, dan mampu bertahan hingga satu minggu pascapanen.(rah)
