Janjikan Terobosan, BYD Geser Singgasana yang Diduduki Elon Musk

Janjikan Terobosan, BYD Geser Singgasana yang Diduduki Elon Musk

JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Dominasi Tesla sebagai raja mobil listrik dunia resmi runtuh. Di penghujung 2025, raksasa otomotif asal China, BYD Co., mencatatkan sejarah baru dengan mengirimkan total 4,6 juta unit kendaraan sepanjang tahun, naik 7,7 persen dibanding 2024.

Angka ini tidak hanya memenuhi target revisi perusahaan, tetapi juga menempatkan BYD di posisi puncak hierarki otomotif global, menggeser singgasana yang selama ini diduduki oleh Elon Musk. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam pergeseran poros industri otomotif dari Barat ke Timur.

Meski demikian, kemenangan BYD dirayakan di tengah awan mendung yang menyelimuti prospek pasar otomotif China di 2026. Tantangan regulasi, persaingan domestik yang berdarah-darah, dan hambatan perdagangan internasional menjadi kerikil tajam yang siap mengganjal ambisi ekspansi mereka selanjutnya.

Meski angka 4,6 juta unit terdengar fantastis, laju pertumbuhan BYD sejatinya melambat. Data historis menunjukkan tren penurunan persentase pertumbuhan yang tajam: dari lonjakan gila-gilaan 218 persen pada 2021 dan 209 persen pada 2022, melambat menjadi 62 persen di 2023, 41 persen di 2024, dan kini “hanya” tumbuh satu digit di level 7,7 persen pada 2025.

Perlambatan ini bukan tanpa sebab. Di pasar domestik China, BYD menghadapi gempuran sengit dari kompetitor lokal. Geely Automobile Holdings Ltd. dan pendatang baru Xiaomi Corp. sukses mencuri perhatian konsumen dengan inovasi teknologi cepat dan model-model baru yang lebih segar.

Chief Executive Officer BYD, Wang Chuanfu, mengakui realitas pahit ini dalam pertemuan investor awal Desember lalu. Ia menyebut bahwa keunggulan teknologi (head start) yang dimiliki BYD dalam beberapa tahun terakhir telah terkikis, berdampak langsung pada penjualan domestik.

Namun, Wang tetap optimis. Dengan dukungan 120.000 insinyur, ia menjanjikan terobosan teknologi baru untuk merebut kembali dominasi pasar.

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi ujian berat bagi BYD dan rival-rivalnya. Pemerintah China mulai menarik rem tangan dengan memangkas sejumlah insentif yang selama ini menjadi “bahan bakar” utama pembelian kendaraan listrik (EV).

Kebijakan ini berpotensi menekan permintaan di saat pasar sedang jenuh. Selain itu, BYD juga berada di pusaran upaya pemerintah Beijing menertibkan industri EV yang terlalu luas, termasuk menindak praktik diskon agresif yang selama ini menopang angka penjualan namun menggerus profitabilitas.

Laporan keuangan menunjukkan BYD mengalami penurunan laba kuartalan berturut-turut, sinyal bahwa perang harga mulai memakan korban. Konsolidasi industri diprediksi akan semakin cepat, merontokkan pemain-pemain kecil dan mengubah peta kekuatan sektor ini.

Di tengah tekanan domestik, pasar ekspor menjadi oase yang menyegarkan. Pengiriman kendaraan BYD ke luar China melonjak hingga menembus 1,05 juta unit pada 2025.(rah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *