Oleh: Bung Kust*)
BOJONEGORO (Kastanews.com): HARI PERS NASIONAL bukan sekadar seremonial tahunan yang dipenuhi flyer, spanduk dan pidato. Ia adalah cermin jujur bagi bangsa ini untuk bercermin: sejauh mana pers masih berdiri tegak sebagai penjaga nurani publik, dan sejauh apa ia ikut menentukan arah kedaulatan ekonomi kebangsaan?
Di ruang redaksi yang kian sunyi, di balik layar gawai dan tenggat yang tak mengenal belas kasihan, insan pers hari ini bekerja dalam situasi yang paradoksal. Di satu sisi, tuntutan kecepatan dan akurasi kian tinggi. Di sisi lain, kesejahteraan jurnalis justru kerap berada di titik rapuh. Banyak jurnalis hidup dalam ketidakpastian upah, kontrak yang rentan, dan tekanan bisnis media yang makin berat. Ketika pers harus bertahan secara ekonomi, independensi sering kali diuji di batas paling sunyi: dapur redaksi dan meja makan keluarga.
Padahal, pers yang merdeka adalah fondasi penting bagi kedaulatan ekonomi. Tanpa pers yang kuat, transparansi runtuh. Tanpa transparansi, kebijakan ekonomi mudah disandera kepentingan sempit. Pers yang berani mengungkap praktik korupsi, monopoli, dan ketimpangan adalah bagian dari upaya menjaga agar kekayaan bangsa tidak mengalir ke segelintir tangan. Di sinilah peran pers bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai pengawal arah pembangunan ekonomi yang berkeadilan.
Namun realitas menunjukkan, konsentrasi kepemilikan media dan ketergantungan pada iklan besar kerap membuat pers terjebak dalam pusaran ekonomi politik. Narasi ekonomi sering dipoles, kritik dipelankan, dan suara rakyat kecil terpinggirkan.
Ketika pers kehilangan keberanian karena tekanan ekonomi, yang terancam bukan hanya profesi jurnalis, tetapi kedaulatan bangsa itu sendiri.
Hari Pers Nasional seharusnya menjadi titik kritis untuk menata ulang ekosistem pers. Negara perlu hadir bukan untuk mengendalikan isi pemberitaan, melainkan menjamin keberlanjutan ekonomi media yang sehat dan adil. Model bisnis media harus didorong agar tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar, melainkan berpijak pada kepentingan publik. Di saat yang sama, insan pers perlu terus merawat etika, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran, meski jalan itu kerap sunyi dan tidak menguntungkan secara materi.
Kedaulatan ekonomi kebangsaan tidak lahir semata dari angka pertumbuhan dan grafik investasi. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif, dari informasi yang jujur, dari kritik yang berani, dan dari pers yang tidak mudah dibeli. Selama masih ada jurnalis yang menulis dengan nurani, selama masih ada media yang memilih kebenaran ketimbang kenyamanan, harapan itu tetap membara dan menyala.
Hari Pers Nasional adalah pengingat bahwa memperjuangkan pers yang merdeka berarti memperjuangkan masa depan ekonomi bangsa. Karena ketika pers dibungkam oleh kepentingan ekonomi, sesungguhnya yang sedang kehilangan suara bukan hanya jurnalis, melainkan rakyat dan kedaulatan itu sendiri.
Selamat Hari Pers Nasional 2026!
*) Penulis adalah Jurnalis dan Sekretaris SMSI Bojonegoro
