Dinamika dan Ketegangan Global Dinilai Makin Kompleks

Dinamika dan Ketegangan Global Dinilai Makin Kompleks

JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kewaspadaan nasional dalam menghadapi dinamika dan ketegangan global yang makin kompleks.

Presiden mengingatkan sejak awal berdirinya Republik Indonesia, dunia telah berada dalam pusaran konflik ideologis dan geopolitik yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia.

“Dari mulai Presiden pertama, kita, Indonesia, tapi seluruh dunia berada di tengah perang ideologi besar. Perang ideologi besar di dunia, di mana dunia dipecah menjadi blok. Ada blok komunis dan blok antikomunis, bisa dikatakan blok demokrasi, blok kapitalis,” ujar Prabowo dalam taklimatnya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Senin (2/2/2026).

Konflik global seperti perang di Ukraina dan krisis kemanusiaan di Gaza memberikan dampak luas, termasuk terhadap stabilitas ekonomi, keamanan, dan ketahanan nasional Indonesia. Karena itu, seluruh jajaran pemerintahan diminta memahami secara utuh tantangan global yang dihadapi saat ini.

Prabowo juga menyampaikan hasil pengamatannya dari berbagai pertemuan internasional yang baru saja dihadiri di Eropa, termasuk forum ekonomi dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Dalam pertemuan tersebut, terjadi peningkatan kekhawatiran terhadap potensi pecahnya Perang Dunia III dari para pemimpin dunia.

Presiden mengingatkan konflik berskala global, khususnya yang melibatkan senjata nuklir akan berdampak luas bahkan bagi negara-negara yang tidak terlibat langsung. Dampak tersebut dapat berupa kontaminasi lingkungan, gangguan pangan dan perikanan, hingga perubahan iklim ekstrem akibat fenomena nuclear winter yang berpotensi berlangsung puluhan tahun.

Dalam konteks tersebut, Prabowo menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap politik luar negeri bebas aktif serta prinsip nonblok. Indonesia tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun dan akan terus mengedepankan persahabatan dengan seluruh bangsa. “Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” ucapnya.

Menurut dia, sikap nonblok dan persahabatan global juga menuntut kemandirian nasional yang kuat. Jika Indonesia memilih tidak bergantung pada aliansi militer, maka bangsa ini harus mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri sebagaimana ditekankan oleh Presiden Soekarno dan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dunia internasional saat ini tidak selalu berjalan berdasarkan prinsip ideal melainkan realitas kekuatan.

“Saya selalu mengingatkan, mengajarkan, yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita,” katanya.

Karena itu, Prabowo menegaskan kewajibannya untuk menjaga keselamatan bangsa dan rakyat Indonesia dengan kebijakan rasional, tenang, dan tidak emosional. “Kita tidak bisa emosional, kita tidak bisa terlalu idealis karena yang berlaku adalah dunia nyata. Karena kita tidak mau perang, kita harus siap untuk perang,” ujarnya.(rah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *