Berhala Kegagalan

Berhala Kegagalan

Oleh: Ikramawani

JAKARTA (Kastanews.com): Saya tidak tahu apakah Soeharto semasa hidupnya dan berkuasanya pernah mendirikan patung untuk dirinya sendiri? Seingat saya tidak ada. Mungkin satu-satunya patung Soeharto ada di dalam Mabes TNI AD (dulu ABRI). Itu pun dibuat bersama-sama dengan patung-patung jenderal-jenderal TNI lainnya. Konon patung itu kini dipindah di Museum Soeharto yang ada di Kemusuk, Sleman, tempat kelahiran Soeharto.

Akan tetapi kita pasti ingat bahwa masa pemerintahan Soeharto, kita menyebutnya Orde Baru, laku kekuasaan begitu buruk. Masa itu kita mengenang sebagai masa yang penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta full pelanggaran hak asasi manusia. Daftar keburukannya akan sangat panjang. Bisa menjadi long list keburukan Soeharto. Kebaikannya? Ada tapi kita tidak mengingatnya, atau bahkan kita enggan mengingatnya.

Joko Widodo, kita menyebutnya dengan Jokowi, memulai karirnya sebagai seorang walikota di sebuah Kota Solo. Kota dengan slogan The Spirit of Java ini lantas menjadi batu pijakan, efitap awal seorang yang dianggap sebagai representasi wong cilik. Jokowi kemudian bergerak terus ke atas setelah sempat singgah sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pria kecil yang pernah dikatai “bodoh” oleh Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah itu telah menjelma menjadi makhluk politik yang sangat piawai. Dia yang sebelumnya hanya menjawab, “Iya, saya memang masih bodoh. Masih harus banyak belajar ke banyak orang. Dibilang begitu ya enggak apa-apa” kemudian memenangi Pilpres 2014. Sebuah puncak kontestasi di Indonesia.

“Jokowi: A New Hope,” begitu sebuah artikel di majalah TIME menjuduli kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 itu. Bahkan lebih sebuah jurnal dengan tanpa sungkan menulis “Jokowi the ‘Indonesian Obama’”. Tentu semua bersepakat dengan semua itu pada waktu itu. Bagaimana tidak? Seorang biasa saja seperti kita-kita yang banyak ini (Jokowi adalah Kita) bukan darah biru, bukan jendral militer, bukan pengusaha besar dsb kemudian menjelma menjadi Presiden.

Seorang yang sama sekali tidak banyak bicara. Bahkan beberapa orang meyakini Jokowi seorang yang tidak mempunyai konsep sama sekali. Ini ditulis oleh Kishore Mahbubani dalam artikelnya “The Genius of Jokowi” ketika hendak melakukan interview pada Jokowi. Orang dekat Jokowi berpesan pada Mahbubani, “He’s not a high-concept individual. He’s not an orator, he’s story teller. That’s why he likes blusukan.”

Namun akhir-akhir ini kita sulit mempercayai harapan itu berubah menjadi ratapan. Mereka yang sejak awal melakukan kritik dan menempatkan diri sebagai oposisi seolah mendapat dasar yang semakin kuat untuk menyerang Jokowi. Mereka berteriak: “Dahulu ketika kami sampaikan ribuan kali bahwa ada pemerintahan yang korup dan kemerdekaan kita terancam, kalian sama sekali tidak peduli. Sampai akhirnya sekarang sudah terlambat.”

Bahkan meskipun begitu, orang-orang tetap saja masih silap dan khilaf. Jokowi seolah mempunyai sihir yang paling mumpuni. Saking hebatnya angka kepuasan pemerintahan Jokowi mencapai angka di atas 80 persen. Saking mempesonanya orang-orang membuat patung untuknya. Setidaknya ada tiga patung Jokowi dibuat hingga saat ini yaitu di 1) Sunu, NTT; 2) Mandalika, NTB dan 3) Karo, Sumatera Utara. Mungkin hendak bersaing banyaknya patung Soekarno di Indonesia.
Bagaimana pun kita suka mempercayai bahwa nasib suatu pemerintahan terletak di tangan rakyatnya. Sementara bagi rakyat patuh dan menyembah seorang pemimpin tiran adalah satu-satunya cara rakyat melindungi diri dari tiran. Orang-orang terdidik merasa bahwa rakyat akan dengan sendirinya sadar. Sadar dengan cara yang bagaimana jika semua saluran pendidikan, informasi dan komunikasi dijejali berbagai ihwal yang semakin membodohkan.

Mari belajar dari Hitler dengan Partai Nazi dan Mussolini dengan Partai Fasis Nasional. Keduanya sebelum berkuasa hanya mempunyai anggota kurang dari 2 persen dari populasi, dan kedua partai tidak meraih mayoritas suara dalam pemilihan umum yang bebas dan adil. Akan tetapi begitu mereka diijinkan masuk dan memegang kekuasaan dengan cara-cara demokratis, mereka mengambil alih demokrasi. Tidak ada yang menduga dan tidak ada yang mengantisipasi.
Sebelum 30 Oktober 1922, Benito Mussolini bukanlah siapa-siapa. Hingga akhirnya diundang raja Italia untuk menjabat sebagai Perdana Menteri Italia. Dia masuk ke Palazzo del Quirinale, istana raja Italia, tanpa menggunakan senjata dan kekerasan sedikit pun. Gerombolan fasismenya waktu itu hanyalah sekelompok orang kurus yang kelaparan, begitu orang-orang Italia menggambarkan PFN.

Begitu pula dengan cerita Adolf Hitler. Hanya seorang seniman yang gagal, dan memulai karirnya sebagai seorang intelijen. Kombinasi dari kegagalan pemerintahan terpilih pada Maret 1930 dan Great Depression mendorong Paul von Hidenburg, Presiden Jerman pada waktu itu menggunakan keistimewaan hak konstitusinya. Kepala negara dalam kondisi darurat berwenang menunjuk Kanselir.

Para elit yang dirundung keputusasaan kemudian memilih bersepakat “mengikat” Adolf Hitler, seorang yang populer di luar mereka yang setiap saat bisa mereka singkirkan. Hitler memang bersedia dipasangkan tali kendali pada dirinya selama beberapa saat hingga akhirnya dia bisa melepaskannya. Bahkan yang lebih buruk dia mengikatkan tali kekang itu ke mulut semua elit Jerman juga Jerman sebagai bangsa dan hampir seluruh Eropa.

Tanda-tanda semacam itu selalu ada. Memang bukan seperti sebuah nurbuat tetapi tanda-tanda itu bisa dideteksi. Hanya saja elit-elit politik terkadang mengabaikannya. Tentu saja karena kepentingannya ada di sana juga, sebuah harapan untuk menumpang berkuasa walau hanya sekejap saja. Bagaimana pun seorang calon demagog bukan tempat yang layak untuk menaruh kesepakatan dan juga bukan tempat yang baik untuk mengadu nasib.

Mungkin kita akan melawan arus besar massa yang tersihir oleh gebyar yang disajikan oleh para demagog. Mungkin juga kita akan diludahi dan mendapat cercaan karena tidak sejalan dengan semangat zaman. Bahkan mungkin ada yang perlu mengatakan “bahwa inilah demokrasi”, “inilah kehendak rakyat”, dan sebagainya. Tapi ini zaman bukan zaman akal sehat, ini zaman kala bendu; zaman yang semua serba terbolak-balik dan dibolak-balik.

Tentu bukan menghalangi mereka untuk maju dalam kontestasi, sama sekali itu bukan saran yang sehat sebagai sebuah negara demokratis. Akan tetapi paling tidak kita bisa belajar dari rekam jejaknya. Demagog adalah orang-orang yang setidaknya pernah menggunakan upaya kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan. Hitler pernah memimpin putsch yang gagal, gerombolan Kemeja Hitam Mussolini pernah terlibat kekerasan paramiliter.

Hari-hari ini Indonesia sedang berada pada susunan cerita yang didendangkan pemimpin yang awalnya menjadi harapan kita semua. Jokowi adalah storyteller apik. Jokowi sekarang bukan orang bodoh seperti kata Bibit Waluyo dulu, Jokowi juga bukan lagi wong cilik pembawa obor harapan rakyat. Jokowi telah menjelma menjadi pencerita, dalang bagi maju mundurnya bangsa dan negara.

Akan tetapi ada saatnya seorang pencerita, dalang, harus beristirahat karena fajar pagi batas waktu tontonan. Karena Kayon juga perlu diletakkan di tengah geber yang tergelar sehingga keseimbangan mulai lagi menemukan titiknya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *