AI Dinilai Penting dalam Bangun Ekonomi dan Keuangan Digital yang Lebih Tangguh

AI Dinilai Penting dalam Bangun Ekonomi dan Keuangan Digital yang Lebih Tangguh

JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyoroti minimnya jumlah startup berbasis artificial intelligence (AI) di Indonesia. Ia menyebut, berdasarkan survei Google terbaru, jumlah startup AI di Tanah Air masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga.

“Indonesia hanya punya 25 startup AI. Bandingkan dengan Singapura yang sudah hampir 300 startup AI,” ungkap Menko Airlangga dalam OECD Asia Roundtable on Digital Finance 2025, secara virtual, Senin (1/12/2025).

Kondisi ini menurutnya menjadi peluang besar bagi pelaku usaha di dalam negeri untuk mengembangkan inovasi dan memperkuat ekosistem teknologi lokal.

Menurutnya Indonesia memiliki potensi besar yang belum dioptimalkan, terutama dari sisi ketersediaan data. “Jadi ini juga satu hal yang bisa kita tarik kesempatan, apalagi kita punya data kuat,” lanjutnya.

Menko Airlangga mencontohkan ekosistem data kesehatan nasional yang sangat masif, yang bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan maupun pengembangan teknologi.

“Kesehatan BPJS saja punya seratusan juta, dan ini bisa untuk memperbaiki. Bahkan Bill Gates pun mendukung research untuk vaksin TB ino berbasis kepada data yang ada di kesehatan Indonesia,” paparnya.

Airlangga juga menekankan peran penting Artificial Intelligence dalam membangun masa depan ekonomi dan keuangan digital yang lebih tangguh. Ungkapnya bahwa pembangunan fondasi AI memerlukan empat pilar utama, yang disebutnya 4C yakni Connectivity, Computing capacity, Context dan Competence.

Ia menjelaskan, upaya Indonesia dalam memperkuat pilar-pilar tersebut, seperti memperluas jaringan serat optik (connectivity), memberi insentif kepada pusat data domestik (computing capacity), mengembangkan AI yang relevan secara lokal (context), dan mengatasi kesenjangan talenta digital (competence).

Menko Airlangga menambahkan bahwa pertumbuhan pendapatan untuk aplikasi berbasis AI cukup kuat, dan investasi swasta di bidang AI mencapai USD91 juta dari akhir 2024 hingga pertengahan 2025.

Sentimen publik sangat optimistis, dengan 56% pekerja percaya bahwa AI akan meningkatkan produktivitas, menempatkan Indonesia pada peringkat keempat sebagai pasar AI potensial terbesar di Asia.

“Selain itu, sektor keuangan juga harus berinovasi. Aplikasi AI skala kecil dapat memperluas akses ke perbankan digital, keuangan mikro, dan perangkat pendukung pembuatan keputusan UKM,” pungkas Airlangga.(rah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *