Kesejahteraan Dinilai Besar, Kompetensi Guru Justru Jadi Perhatian Serius

Kesejahteraan Dinilai Besar, Kompetensi Guru Justru Jadi Perhatian Serius

JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Kemendikdasmen secara resmi menutup rangkaian Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas) 2026 yang berlangsung di Depok, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penguatan arah kebijakan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai prioritas utama dalam perbaikan mutu pendidikan.

“Ada hal yang perlu saya tekankan di sini. Ada yang luput dari kita. Ada persoalan kompetensi,” kata Atip.

Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan guru selama ini sudah cukup besar, namun aspek kompetensi masih memerlukan perhatian serius.

“Jadi kita terlalu terfokus kepada kesejahteraan padahal itu sesuatu yang pasti. Tapi kita agak alpa dengan kompetensi. Untuk semua yang terkait dengan kompetensi guru ini,” ujarnya.

Atip mencontohkan hasil uji kompetensi bahasa Indonesia di salah satu kabupaten yang menunjukkan capaian belum menggembirakan.

“Dengan inisiatif sendiri melakukan tes UKBI uji kompetensi bahasa Indonesia. Hasilnya belum mengembirakan. Jadi yang unggul itu tampaknya di bawah 20% ya Pak. Yang unggul Pak. Mayoritasnya semenjana. Sedang-sedang saja,” tuturnya.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar utama dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Kompetensi guru dimana bahasa Indonesia itu adalah bahasa pengantar. Tapi yang unggulnya 20% ke bawah,” katanya.

Selain itu, Atip juga menyoroti kompetensi guru pada mata pelajaran lain, termasuk matematika. Ia mengungkapkan pernah menemukan kasus guru yang kesulitan menyelesaikan soal matematika yang diberikan.

“Untuk mata pelajaran yang lain. Kita ambil contoh untuk matematika. Pernah dalam satu kesempatan guru matematika itu. Diminta untuk menyelesaikan satu persoalan matematika. Dia tidak bisa menjawab. Jadi kompetensi is the first,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi harus menjadi pekerjaan rumah bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan. “Prosperity is the first. Ini tolong kita menjadi PR semua soal kompetensi. Soal kompetensi,” katanya.(rah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *