JAKARTA (Kastanews.com): Anggota Komisi X DPR RI, Ratih Megasari Singkarru, menegaskan pentingnya menjaga kampus sebagai dapur ilmiah yang murni, bukan sekadar mesin pencetak keuntungan ekonomi.
Ratih menyampaikan kekhawatirannya terhadap arah kebijakan yang mendorong kampus sebagai simpul pertumbuhan ekonomi, apabila diterapkan terlalu dini dan berorientasi pada keuntungan semata.
“Saya mohon dipastikan kampus ini tetap menjadi dapur ilmiah. Dapur ilmiah yang murni, tolong jangan dia dibuat sebagai pabrik yang melulu mengejar setoran,” tegas Ratih dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi dosen dan mahasiswa untuk bereksperimen, berinovasi, dan menghasilkan pengetahuan tanpa dibebani target komersial sejak awal.
“Biarkanlah dosen-dosen dan mahasiswa fokus menciptakan prototipe atau teknologi yang benar-benar canggih dan berguna, tanpa harus dibebani pertanyaan lakunya berapa duit,” ujarnya.
Ratih menilai, pemaksaan logika pasar terlalu cepat justru berisiko membunuh kreativitas dan keberanian inovasi di lingkungan akademik.
“Kalau kampus dipaksa berpikir sebagai pedagang, saya takut inovasinya jadi tidak berani dan tidak liar. Padahal, inovasi mutakhir itu lahir dari mimpi-mimpi yang sangat liar,” kata legislator tersebut.
Ia menekankan bahwa pembicaraan soal investasi dan produksi massal sebaiknya dilakukan setelah inovasi terbukti bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau barangnya sudah jadi dan terbukti bermanfaat, baru kita boleh bicara dengan investor atau industri soal uang,” lanjutnya.
Selain menyoroti arah kebijakan kampus, Ratih juga menyinggung program revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang telah diperluas dari 10 menjadi 17 perguruan tinggi. Ia mengapresiasi kemajuan fisik dan akses program tersebut, namun mengingatkan agar ukuran keberhasilan tidak berhenti pada angka kelulusan.
“Kita bukan lagi bicara berapa banyak guru yang lulus PPG, tapi apakah kualitas pengajaran di ruang kelas benar-benar berubah,” ujarnya.
Ratih mendorong agar indikator keberhasilan pendidikan guru digeser pada kemampuan pedagogik yang lebih relevan dengan tantangan zaman, seperti kreativitas, kesabaran, dan pemahaman terhadap kebutuhan murid.
“Kalau kualitas pengajaran di kelas belum berubah, maka perluasan ke 17 kampus itu belum menyentuh akar permasalahan pendidikan kita,” tandasnya.
Menutup pernyataannya, Ratih kembali menegaskan bahwa kampus harus menjadi safe space bagi proses ilmiah, termasuk kegagalan, karena dari proses itulah nilai besar inovasi lahir.
“Biarkan eksperimen itu terjadi. Ada keberhasilan, ada kegagalan. Proses itulah yang justru menghasilkan value paling tinggi,” pungkasnya. (rls/*)
