JAKARTA (KASTANEWS.COM)- Nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai mencuat sebagai sosok yang berpotensi menjadi Calon Presiden (Capres) Tahun 2029. Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga ayah Gibran merespons isu tersebut.
“Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah itu saja,” ujar Jokowi saat dijumpai di kediamannya Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jumat (30/1/2026).
Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali memberikan pernyataan terkait potensi Wapres Gibran dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Ahmad Ali menyatakan putra sulung Jokowi itu berpotensi menjadi penantang serius Presiden Prabowo Subianto.
Sebelumnya, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif SCL Taktika Konsultan Iqbal Themi menuturkan pernyataan Jokowi yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka selama dua periode dinilai bukan sekadar bentuk loyalitas politik.
Langkah ini dipandang sebagai manuver strategis untuk menjaga relevansi dan daya tawar Jokowi dalam peta kekuasaan nasional pascapurnatugas sebagai kepala negara.
“Secara struktur formal, Jokowi sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Tapi secara pengaruh, dia jelas tidak ingin kehilangan kendali. Dukungan dua periode kepada Prabowo–Gibran adalah pesan simbolik bahwa Jokowi masih punya basis massa yang loyal dan siap dimobilisasi,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Menurut Iqbal, tidak seperti mantan Presiden Megawati dan SBY yang memiliki partai sebagai kendaraan politik jangka panjang, Jokowi tidak memegang kendali struktural atas partai mana pun. Dalam situasi tersebut, kekuatan relawan menjadi instrumen politik utama yang kini kembali dikonsolidasikan.
“Relawan adalah aset politik utama Jokowi. Hari ini, kekuatan itu mulai dirapikan ulang sebagai basis politik alternatif baik untuk menopang pemerintahan Prabowo–Gibran maupun untuk menyiapkan skenario kekuasaan lain yang berada dalam orbit Jokowi,” ungkapnya.
Di sisi lain, dia melihat ini sebagai langkah taktis Jokowi dalam merespons tekanan politik yang diarahkan kepada dirinya dan keluarganya. Mulai dari isu keabsahan ijazah hingga wacana pemakzulan Gibran, semua itu memperkuat kebutuhan Jokowi untuk menunjukkan bahwa dia masih memiliki benteng loyalis yang siap digerakkan.
“Dukungan dua periode ini bukan sekadar pernyataan politik, tetapi juga bisa dibaca sebagai manuver pertahanan. Ini sinyal bahwa Jokowi masih punya kekuatan tekan sekaligus jaring pengaman politik jika eskalasi terhadap dirinya dan keluarganya terus berkembang,” ujar Iqbal.(rah)
