JAKARTA (Kastanews.com): Kepemimpinan dalam negara demokratis harus berbasis gagasan yang kuat, bukan semata dorongan emosi atau pragmatisme kekuasaan. Kalau kepemimpinan tidak berbasis ide, hanya akan dipenuhi semangat tanpa nalar.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yang juga Ketua Koordinator Bidang Ideologi Organisasi dan Kaderisasi DPP Partai NasDem, Willy Aditya saat membuka acara bedah buku ‘Sutan Sjahrir: Perjuangan Kita’ di Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Willy menilai diskusi-diskusi ideologis semacam ini penting untuk menjaga arah republik agar tidak kehilangan pijakan intelektual dan moral. Menurutnya, demokrasi tanpa fondasi gagasan hanya akan melahirkan kegaduhan politik tanpa tujuan yang jelas.
“Partai NasDem didirikan dengan pendekatan kepemimpinan ide untuk menjaga arah republik. NasDem lahir dari kesadaran bahwa republik ini harus dipimpin oleh gagasan, bukan oleh reaksi sesaat,” ungkap Willy
Willy dalam kesempatan tersebut juga mengkritik era Reformasi yang dinilainya lebih banyak digerakkan emosi tanpa kerangka ideologis yang solid.
“Kita marah, kita gelisah, tapi tidak punya peta ide tentang mau dibawa ke mana republik ini,” ujarnya.
Willy kemudian menyinggung relevansi pemikiran Sutan Sjahrir sebagai teladan kepemimpinan intelektual dan moral. Ia menilai Sjahrir adalah figur yang berani berpikir jernih, bahkan saat harus berseberangan dengan tokoh besar seperti Soekarno.
“Sjahrir menunjukkan bahwa perbedaan ide tidak harus lahir dari kebencian atau sentimen personal,” tegas Willy.
Menurutnya, kekuatan utama Sjahrir bukan hanya kecerdasan dan keberanian politik, melainkan moralitas dan virtue, termasuk kerelaan untuk dipimpin dan menghormati proses demokratis. Nilai-nilai inilah yang dinilai Willy semakin langka dalam praktik politik hari ini.
“Kita mungkin banyak orang pintar dan berani, tapi miskin virtue,” ujarnya.
Ditambahkannya, NasDem berupaya memposisikan diri sebagai partai pelopor ide, sebagaimana gagasan Sjahrir tentang pentingnya partai yang memberi keteladanan, bukan sekadar mengejar kemenangan elektoral. Meski belum menjadi partai pemenang pemilu, NasDem, berkomitmen mendorong lahirnya produk legislasi yang berdampak nyata bagi publik.
“Kepeloporan ide itulah komitmen politik kami,” tegasnya.
Ia menambahkan, garis ideologis NasDem adalah republikanisme, yakni politik yang didedikasikan sepenuhnya untuk kemaslahatan rakyat dan kepentingan publik luas.
“Partai ini tidak mengutuk situasi, tapi berusaha menjawabnya dengan gagasan dan kerja konkret,” tukasnya.
Buku Sutan Sjahrir: Perjuangan Kita, memuat pemikiran-pemikiran awal Sjahrir tentang negara-bangsa, demokrasi, dan posisi Indonesia dalam konstelasi global pasca-Perang Dunia II.
Sjahrir menekankan pentingnya analisis objektif atas kondisi internasional dan domestik, menolak sentimentalitas politik, serta mengkritik sisa-sisa feodalisme dan fasisme yang menghambat kemerdekaan sejati republik. Hadir pembedah buku: Rocky Gerung dan Ketua Komnas HAM RI 2017-2022 Ahmad Taufan Damanik.(rls/*)
