PAMULANG (Kastanews.com): Kita pernah bareng-bareng ditempa, diomelin, diteriakin, jalan jongkok, push up, pernah berbagi makanan, pernah berbagi cerita, semua itu pernah kita alami bersama. Tapi itu dulu, ketika masih ada Exispal (Existensi Pecinta Alam) 24KJ. Tapi sekarang, Exispal 24KJ sudah nggak ada.
Seiring waktu berjalan, usia terus bertambah, fisik semakin melemah, semakin kemari semakin banyak yang dulu bisa kita banggakan sebagai anak-anak gunung (pecinta alam), perlahan-lahan mulai memudar. Sangat bersyukur jika kita masih bisa bersilahturahmi, menjalin kekerabatan, kebersamaan, persaudaraan, tentu kata Alhamdulillah harus kita panjatkan karena masih diberi waktu untuk kembali bertemu. Terimakasih Elang Gunung.
Kata kata itu meluncur cukup emosional dari seorang kawan pemegang Kartu Tanda Anggota (KTA) Exispal 24KJ bernomor EG/001/EX/84. Kecintaannya pada Exispal tak perlu ragu. Dialah penyambung silahturahmi anggota Exispal Elang Gunung dengan senior dan sekaligus juniornya.
Exispal adalah organisasi pecinta alam SMA 24 Jakarta. Didirikan oleh Ronta William & Kawan-kawan di Gn.Salak pada 23 Maret 1978. Seiring waktu berjalan, kapasitas siswa SMA 24 Jakarta yang bertempat di Lapangan Tembak Senayan terus bertambah. Dibentuklah oleh Pemerintah SMA 24 Filial atau juga dikenal dengan SMA 24 KJ (Kelas Jauh) yang bertempat di Jalan Jendral Sudirman (samping Komdak).
Exispal pun menyesuaikan diri. Siswa SMA 24 KJ membentuk Exispal 24KJ. Pada 11 Maret 1986, SMA 24KJ berganti menjadi SMA 82 Jakarta yang berlokasi di Jalan Daha II No. 15A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Maka, adanya pergantian SMA 24KJ ke SMA 82 dengan sendirinya telah meniadakan Exispal 24KJ. Tidak ada lagi SMA 24KJ dan tidak ada lagi Exispal 24KJ, karena siswa SMA 82 membentuk pecinta alam baru bernama Werdi Bhuwana.
Dengan begitu, maka Exispal 24KJ telah pupus. Dia mati dengan sendirinya. Mati oleh keadaan. Tidak ada generasi berikutnya. Tidak ada penyambung kisah-kisah heroik menaklukkan gunung gemunung di nusantara. Tidak ada lagi kisah-kisah yang bisa disimak dari anggota Exispal 24KJ menaklukkan dunia dengan KTA Exispal tetap menyelip didompetnya. Yang ada hanya kisah lama. Kisah, lawas yang hanya menjadi kenangan. Tak akan ada kisah petualangan baru, karena Exispal 24KJ memang telah tiada. Yang ada hanya serpihan anggota yang hanya menunggu “waktu” berpulang, sambil memeluk erat kisah-kisah yang ditorehkannya bersama Exispal 24KJ.
Anggota Exispal 24 KJ jumlahnya tidak banyak. Sejak terbentuk, SMA 24KJ hanya meluluskan beberapa angkatan. Salah satunya Angkatan 1987, atau yang di Exispal 24KJ angkatan ini oleh seniornya diberi nama Elang Gunung.
28 Oktober 1984, calon anggota Exispal SMA 24KJ dilantik dan resmi mendapat predikat anggota dengan sebutan Elang Gunung. Tepatnya di Cidahu, kaki Gn. Salak. Di sebuah kali kecil yang airnya mengalir jernih.

Sebelum pela ntikan itu dilakukan, malamnya, seluruh calon anggota digembleng habis-habisan. Push up, jalan jongkok, dibentak, push up lagi, jalan jongkok lagi, hingga harus direndam di kali mesti malam telah larut. Gulita menemani. Suara-suara keras para senior menghantui. Pendek kata, fisik dan mental dihajar habis-habisan.
Rencana awal, calon anggota Elang Gunung akan dilantik di Kawah Ratu. Untuk itu, paginya, seluruh rombongan harus berjalan mendaki menuju Kawah Ratu. Sayangnya, rombongan terpisah. Semakin lama, semakin jauh jarak membentang antarrombongan. Akhirnya, terpisah menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama, berhasil menembus Kawah Ratu.
Kelompok kedua nyasar. Jalan yang seharusnya berbelok ke kanan, tetapi malah mengambil jalan lurus. Walhasil, sekitar 23 orang harus menanjak. Semakin jauh kaki melangkah, bukan tanah atau batu yang dipijak, tetapi dedaunan lembab hingga sedalam mata kaki. Menyadari jalan salah yang diambil, akhirnya rombongan dibawa kembali turun.
Sementara kelompok yang lain, sekitar enam orang tidak diketahui rimbanya. Ada nama-nama yang tidak termasuk di kelompok pertama yang sampai di Kawah Ratu maupun yang nyasar. Baru diketahui kemudian, rombongan ini justru sudah sampai Jakarta.
Minggu, 28 Oktober 1984, yang seharusnya calon anggota dilantik di Kawah Ratu, namun dalam perjalanan pendakian malah runyam. Rombongan harus kembali menginap. Keesokan harinya, baru pelantikan dilakukan. Simbolis. Tidak dilakukan di Kawah Ratu karena permintaan guru pembimbing yang keberatan jika anak didiknya harus diminta kembali mendaki menuju Kawah Ratu. Tidak mau mengambil resiko kembali nyasar atau bahkan hilang. Sungai kecil dengan air yang jernih jadi solusi, menjadi saksi betapa Elang Gunung harus berjibaku keras untuk mendapatkan Kartu Tanda Anggota.
Kini, Elang Gunung telah berusia 41 tahun pada Oktober 2025 lalu. Banyak kisah yang dilewati dari para personilnya. Bahkan per hari ini, masih ada personil Elang Gunung yang membawa terus KTA-nya kemanapun dia pergi. KTA itu bersemayam dengan damai meski dompet entah sudah berapa kali berganti.
Hasan Achyar, atau yang akrab disapa entol, membawa serta KTA Exispal 24KJ bernomor EG/001/EX/84 kemanapun dia pergi. KTA itu bahkan sudah keliling dunia saat dirinya menjadi anak buah kapal. Jelajah hidupnya adalah spirit yang tertanam di KTA Exispal 24KJ. Entah sudah berapa gunung dia daki. Semua telah menjadi cerita manis yang kelak bisa dia kisahkan ke anak cucu.
Mustawan, pemilik nomor KTA EG/009/EX/84 bahkan sudah mengelilingi beberapa negara di Amerika, Asia, Eropa dengan KTA menyelip didompetnya. Profesi yang menuntutnya untuk berpetualang. Hingga kini, gaya dan dandanannya tidak berubah. Tetap laiknya pendaki, bukan anggota dewan.
Lain lagi dengan pemilik KTA EG 017/EX/84 yang benama Muslima Noor. Dia harus pindah sekolah karena akibat pelantikan yang nyasar. Namun jiwa berpetualangnya masih terasa hingga hari ini. Menjelajah kota-kota di Indonesia hingga luar negeri bahkan di usia yang lebih dari setengah abad.
Begitupun dengan kisah Sita Cundamani. Tomboy sejak orok, masih sanggup mendaki Gunung Rinjani meski di usia lebih dari 50 tahun. Bahkan Judhi Wastu, jiwa petualangnya membawa dirinya hingga ke China akhir tahun 2025 lalu.
Hendri Camar Wijaya, personil Elang Gunung yang sempat menjabat sebagai Ketua Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DKI Jakarta dan juga menjabat di Pengurus Pusat (PP) FPTI sebagai Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan untuk masa bakti 2023-2027. Posisi itu langsung tidak langsung, diakui atau tidak diakui, ada pengalaman dan petualangan semasa menjadi anggota Exispal 24KJ.

Masih terlalu banyak kisah dari para personil Elang Gunung untuk digoreskan dalam tinta perjalanannya. Terlalu manis untuk dikenang. Terlalu pait untuk dilupakan. Ada banyak nama yang sulit untuk disebut satu per satu. Mengingat, sudah ada beberapa personil Elang Gunung yang berpulang. Sudah tak bisa lagi diajak untuk bertemu. Kirimkan doa untuk mereka.
Elang Gunung telah 41 tahun bersama. Ikatan persaudaraan terus diupayakan untuk terjaga karena memang harus dijaga. Tidak ada lagi regenerasi, yang ada hanya mempererat tali silahturahmi dan persaudaraan dari personil yang tersisa.
Sabtu-Minggu, 10-11 Januari 2026 nanti, personil Elang Gunung kembali ingin bertemu. Dengan personil yang hatinya masih ada rasa memiliki. Yang masih merasa Elang Gunung memiliki makna dalam hidupnya. Berkumpul di tempat yang dulu mereka digojlok habis habisan. Push up, squat jump, jalan jongkok, diteriaki, dibentak, push up lagi, squat jump lagi hingga malam menjemput. Selamat berkumpul brader, kan kugenggam erat
tanganmu saudaraku.(*)
